HOME
Home » Berita Terkini » Guru » Informasi » Pembelajaran » Pendidikan » Bagaimana Pembelajaran HOTS Program PKP?

Bagaimana Pembelajaran HOTS Program PKP?

Posted at November 5th, 2019 | Categorised in Berita Terkini, Guru, Informasi, Pembelajaran, Pendidikan

Apa itu Higher Order Thinking Skill atau Hots Dalam Pembelajaran?

Apakah tuntutan pembelajaran hots memberatkan guru?

Bagaimana Pembelajaran Hots Program PKP?

Hai sobat rohmansa, seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, kali ini saya akan membahas tentang pembelajaran HOTS.

Sebagai pengantar saya akan menjelaskan dulu tentang pengertian atau definisi HOTS dalam pembelajaran.

Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skill (HOTS) adalah proses berfikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, mengnalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar. (Resnick:987)

Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan kondisi peserta didik dan perkembangan ilmu serta teknologi yang dinamis, seorang guru harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan serta kompetensinya. maka tidak ada istilah bahwa pembelajaran HOTS memberatkan tugas guru. Seperti pepatah “alah bisa karena biasa“, maka jika seorang guru membiasakan diri untuk memberikan pembelajaran yang berorientasi HOTS maka tidaak akan ada kata sulit atau berat.

Sebelum lanjut pada topik utama, jika rekan atau sobat rohmansa belum memperoleh informasi bagaimana cara menyusun rencana pembelajaran HOTS sesuai dengan PKP, naka boleh sobat rohmansa baca dulu ulasan berikut…

Silahkan baca : Bagaimana Merencanakan Pembelajaran Hots Sesuai Program PKP?

ASPEK KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI

  1. Sebagai Transfer Knowledge : Keterampilan berpikir sesuai dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang menjadi satu kesatuan dalam proses belajar dan mengajar.
  2. Sebagai Problem Solving : Keterampilan yang memiliki keinginan kuat untuk dapat memecahkan masalah muncul pada kehidupan sehari-hari
  3. Sebagai Critical and Creative Thinking :Keterampilan yang dikerahkandalammemecahkanpersamalahan yang muncul, mengambilkeputusan, menganalisis,  menginvestigasi, danmenyimpulkan

1. TRANSFER KNOWLEDGE

  1. RANAH KOGNITIF

Dimensi Pengetahuan

a. Faktual : pengetahuan tentang eleman-elemen terpisah dan memiliki cirinya tersendiri, meliputi pengetahuan tentang terminology dan detail dan elemen yang lebih spesifik.

b. Konseptual : pengetahuan tentang bentuk yang lebih kompleks dan terorganisasi, mencakup klasifikasi dan kategori, prinsip, model, dan struktur

c. Prosedural : pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, mencakup pengetahuan dalam hal keterampilan dan algoritmik, Teknik dan metode, dan  model dan struktur.

d. Meta Kognitif: Kesadaran seseorang tentang bagaimana ia belajar, kemampuan untuk menilai kesukaran sesuatu masalah, kemampuan untuk mengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan meng- gunakan berbagai informasi untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai kemajuan belajar sendiri.

2. Ranah Afektif

Dengan mengikuti pendapat Krathwohl, aspek-aspek yang terkandung daam ranah afektif terdiri dari minat (interest), sikap (attitude), nilai (value), apresiasi (appreciation), penyesuaian (adjustment). Masing-masing aspek tersebut muncul pada diri siswa tidak sejelas seperti dalam ranah kognitif artinya dalam ranah kognitif aspek yang satu merupakan syarat mutlak bagi aspek yang lain sedangkan dalam ranah afektif tidaklah demikian, tetapi masing-masing aspek saling tumpang tindih

a. Receiving, terdiri dari:  1) Awareness (penyadaran) 2) Willing to receive (kemauan untuk menerima) 3) Controlled or selected attention (perhatian yang terkontrol atau terpilih) (aspek afektif : minat dan apresiasi) 

Taraf ini berhubungan dengan menimbulkan, mempertahankan dan mengarahkan perhatian siswa. Yaitu kesadaran akan fenomena, kesediaan menerima fenomena dan perhatian yang terkontrol atau terseleksi terhadap fenomena

b. Responding, terdiri dari: 1) Acquiescence in responding (persetujuan untuk menjawab) 2) Willingness to respond (kemauan untuk menjawab) 3) Satisfaction in respond (kepuasan dalam menjawab) (aspek afektif : minat, sikap, apresiasi, nilai dan penyesuaian) 

Dalam kegiatan belajar mengajar terlihat adanya kemauan siswa untuk menjawan pertanyaan guru, atau kepuasan dalam menjawab (misalnya membaca buku untuk kegembiraan)

c. Valuing, terdiri dari: 1) Acceptance of a value (penerimaan suatu nilai) 2) Preference of a value (pemilihan suatu nilai) 3) Commitment (bertanggung jawab untuk mengingatkan diri) (aspek afektif : minat, sikap, apresiasi, nilai, penyesuaian)

Pada taraf ini tingkah laku siswa sangat konsisten dan tetap sehingga dapat memiliki keyakinan tertentu .

d. Organization, terdiri dari:  1) Conzeptualization of a value (konseptualisasi suatu nilai) 2) Organization of a value system (pengorganisasian suatu sistem nilai) (aspek afektif : sikap, nilai dan penyesuaian) 

e. Characterization by value complex, terdiri dari:  1) Generalized set (perangkat yang tergeneralisasi) 2) Characterization (karakterisasi) (aspek afektif : penyesuaian) 
Pada taraf ini disebut sebagai tahap internalisasi artinya suatu sistem nilai sudah terbentuk dalam diri individu dan mengontrol tingkah lakunya dalam waktu yang lama sehingga membentuk karakteristik “pola/pandangan hidup”.

3. Ranah Psikomotor

Model-model Pembelajaran Hots

Implementasi Kurikulum 2013 menurut Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses menggunakan 3 (tiga) model pembelajaran yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, sosial serta mengembangkan rasa keingintahuan. Ketiga model tersebut adalah: (1) model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry Learning), (2) model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning/PBL), (3) model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-based Learning/PJBL).

Informasi lebih jelasnya dari 3 model pembelajaran tersebut sbb:

  1. Problem Base Learning

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual (Tan Onn Seng, 2000).
Tujuan PBL adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep Higher Order Thinking Skills (HOTS), keinginan dalam belajar, mengarahkan belajar diri sendiri, dan keterampilan (Norman and Schmidt).

Karakteristik yang tercakup dalam PBL menurut Tan (dalam Amir, 2009) antara lain:

  • (1) masalah digunakan sebagai awal pembelajaran
  • (2) biasanya masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang disajikan secara mengambang (ill-structured)
  • (3) masalah biasanya menuntut perspektif majemuk (multiple-perspective)
  • (4) masalah membuat pembelajar tertantang untuk mendapatkan pembelajaran di ranah pembelajaran yang baru
  • (5) sangat mengutamakan belajar mandiri
  • (6) memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak dari satu sumber saja, dan
  • (7) pembelajarannya kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif. Karakteristik ini menuntut peserta didik untuk dapat menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, terutama kemampuan pemecahan masalah.

Berikut ini Sintaks Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah:

Tahapan Kegiatan Guru Di Kelas
Tahap-1 Orientasi siswa pada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap-2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa untuk mendefinisikan  dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Berikut ini penjelasan secara merinci langkah-langkah yang diperlukan untuk meng­implementasikan PBL dalam pembelajaran sebagai berikut:

Tahap 1. Mengorientasikan siswa pada masalah.

Dalam hal ini pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan.  Tahapan ini sangat penting dalam penggunaan PBL, dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa dan guru sendiri.  Di samping proses yang akan berlangsung, pen­ting juga untuk menjelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembela­jaran.  Hal ini penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang dilakukan. Sutrisno menekankan empat hal penting pada proses ini, yaitu:

  • a) tujuan utama pengajaran ini tidak untuk mempelajarai sejumlah informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri;
  • b) permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar”, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan;
  • c) selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, namun siswa harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya; dan
  • d) selama tahap analisis dan penjelasan, siswa akan didorong untuk menyata-kan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan.Dalam pembelajaran ini, tidak ada ide yang akan ditawarkan oleh guru atau teman sekelas.  Semua siswa diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka.

Tahap 2. Mengorganisasi Peserta didik untuk belajar.

Pemecahan suatu masalah yang membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota mendorong siswa untuk belajar berkolaborasi.  Oleh sebab itu, guru dapat me­mulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik di­mana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda.   Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagai­nya.  Hal penting yang dilakukan guru adalah memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok se­lama pembelajaran.  Selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal.

Tahap 3. Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok.

Pada fase ini guru membantu siswa dalam mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, peserta didik diberi pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut.  peserta didik diajarkan untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan me­tode yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.

Tahap 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

Hasil karya yang dimaksud lebih dari sekedar laporan tertulis, termasuk hal-hal seperti rekaman video yang memperlihatkan situasi yang bermasalah dan solusi yang diusulkan, model-model yang mencakup representasi fisik dari situasi masalah atau solusinya, dan program komputer serta presentasi multimedia.  Selain beberapa hal tersebut, dapat pula dilakukan dengan cara lain, newsletter misalnya, merupakan cara yang ditawarkan untuk memamerkan hasil-hasil karya siswa dan untuk menandai berakhirnya proyek-proyek berbasis masalah.

Tahap 5. Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah.

Fase terakhir PBL ini melibatkan kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan untuk mem­bantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri maupun keterampilan investigative dan keterampilan intelektual yang mereka gunakan.  Selama fase ini, guru meminta siswa untuk merekonstruksikan pikiran dan ke­giatan mereka selama berbagai fase pelajaran. Tantangan utama bagi guru dalam tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

2. Discovery Learning

Menurut Syah (2004) dalam mengaplikasikan metode discovery learning di kelas,ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:

a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pertama peserta didik dihadapkan pada fenomena yang mengandung permasalahan, sesuatu yang menimbulkan kebingungannya dan timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.

b. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulation guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk  mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

c.Data collection (pengumpulan data)

Pada saat peserta didik melakukan eksperimen atau eksplorasi, guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyakbanyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.Data dapat diperoleh melalui membaca literatur, mengamati objek, wawancara   dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

d. Data processing (pengolahan data ) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

e. Verification (pembuktian)

Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan,dihubungkan dengan hasil data processing. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi tersebut.

3. Project Base Learning

Model Project-based Learning adalah model pembelajaran yang melibatkan keaktifan peserta didik dalam memecahkan masalah, dilakukan secara berkelompok/mandiri melalui tahapan ilmiah dengan batasan waktu tertentu yang dituangkan dalam sebuah produk untuk selanjutnya dipresentasikan kepada orang lain.

Karakteristik PjBL antara lain:
a. Penyelesaian tugas dilakukan secara mandiri dimulai dari tahap perencanaan, penyusunan, hingga pemaparan produk;
b. Peserta didik bertanggung jawab penuh terhadap proyek yang akan dihasilkan;
c. Proyek melibatkan peran teman sebaya, guru, orang tua, bahkan masyarakat;
d. Melatih kemampuan berpikir kreatif; dan
e. Situasi kelas sangat toleran dengan kekurangan dan perkembangan gagasan.


Dalam penerapan model pembelajaran yang telah diuraikan di atas, seorang guru hendaknya memahami cara menentukan model pembelajaran yang akan digunakan. Adapun tahapan penentuan model pembelajaran sebagai berikut:

  1. Memahami sintaks tiap model pembelajaran;
  2. Menganalisis konten/materi pembelajaran;
  3. Memahami konteks peserta didik;
    Jika peseta didik belum siap, perlu dibangun jembatan penghubung antara proses LOTS menuju HOTS yaitu membangun skema pengetahuan awal dengan pengetahuan baru.
  4. Mempersiapkan sebuah situasi nyata yang dapat menstimulasi proses berpikir tingkat tinggi dengan menciptakan dilema, kebingungan, tantangan, dan ambiguitas dari permasalahan yang direncanakan akan dihadapi peserta didik (lihat tabel 22. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi);
  5. Menentukan keterampilan yang akan digunakan untuk menghadapai situasi nyata tersebut;
  6. Mempertimbangkan alokasi waktu pembelajaran;
  7. Menentukan luaran (output) yang akan dihasilkan; dan
  8. Menganalisis situasi, keterampilan, dan luaran dengan sintak model pembelajaran untuk menentukan model yang relevan.

STRATEGI MENGEMBANGKAN PEMBELAJARAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI


Dalam merencanakan pembelajaran berpikir tingkat tinggi kendala yang sering muncul adalah menyiapkan kondisi lingkungan belajar yang mendukung terciptanya proses berpikir dan tumbuh kembangnya sikap dan perilaku yang efektif. Proses ini bisa dilakukan dengan menjalin kegiatan berpikir dengan konten melalui kolaborasi materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan antar konsep (Lewis & Smith, 1993).


Hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi terletak pada konten/materi pembelajaran dan konteks peserta didik. Apabila peserta didik belum siap untuk melakukan keterampilan berpikir tingkat tinggi, maka perlu dibangun terlebih dahulu jembatan penghubung antara proses berpikir tingkat rendah menuju berpikir tingkat tinggi.

Caranya adalah dengan membangun skema dari pengetahuan awal yang telah diperoleh sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Setelah terpenuhi, maka guru perlu mempersiapkan sebuah situasi nyata yang dapat menstimulasi proses berpikir tingkat tinggi dengan menciptakan dilema, kebingungan, tantangan, dan ambiguitas dari permasalahan yang direncanakan akan dihadapi peserta didik (King, Goodson & Rohani, 2006).

Demikian penjelasan tentang proses pembelajaran Hots PKP, selanjutnya akan saya jelaskan tentang Bagaimana cara membuat soal hots. Moga bermanfaat…. Terima kasih.

No comment for Bagaimana Pembelajaran HOTS Program PKP?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Post to Bagaimana Pembelajaran HOTS Program PKP?

Bahan Belajar Rangkuman Materi tema 5 Kelas 4 subtema 1 dan 2

Posted at November 29, 2019

Sesuai dengan temanya yaitu Pahlawanku, tema 5 kelas 4 kurikulum 2013, materinya banyak membahas tentang sejarah terutama sejarah para pahlawan. Seperti yang sudah saya... Read More

Rangkuman Materi Kelas Tema 4 Kurikulum 2013 Revisi

Posted at November 27, 2019

Dengan makin dekatnya masa Ujian Akhir Semester atau UAS yang sekarang dikenal dengan Penilaian Akhir Semester atau PAS, maka peserta didik dituntut untuk belajar... Read More

soal matematika

Soal Latihan PAS 1 Matematika Kelas 4

Posted at November 24, 2019

Menjelang Penilaian akhir semester 1 yang akan dilaksanakan sekitar awal Desember, saya mencoba untuk memberikan bekal berupa soal-soal latihan Ujian akhir semester atau UAS... Read More

Tips Sukses Menghadapi Ujian

Tips Agar Anak Fokus Belajar dengan Cara yang Simpel dan Mudah Dilakukan

Posted at November 14, 2019

Hai sob, kali ini saya ingin berbagi dan Informasi tips cara mudah belajar atau latihan agar peserta didik dapat fokus baik dalam belajar atau... Read More

konsep soal hots

Bagaimana Cara Membuat Soal HOTS Berikut Contohnya

Posted at November 12, 2019

Sebenarnya memang sudah ada niatan saya untuk posting tentang cara menyusun soal hots ini, tapi niatnya semakin menguat setelah ada permintaan Bu Tanti dari... Read More